UNTUK SAUDARA KAMI DI PALESTINA

Bumi para  syuhada… Alhamdulillah siang ini, di meja humas ditemukan sebuah amplop putih yang bertuliskan “Donasi Untuk Palestina”. Semoga dana kemanusiaan yang telah bapak ibu sampaikan lewat SMP IT Al Huda Wonogiri bermanfaat dan menambah semangat saudara-saudara kita disana… *) […]

PENYULUHAN KESEHATAN

Kesehatan merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan seseorang. Dengannya seseorang bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik dan optimal. Senin, 4 Agustus 2014, setelah mengikuti Grand Opening PTB Siswa siswi SMPIT Al Huda mengikuti penyuluhan kesehatan dari Puskesmas 1 Wonogiri. Dalam […]

SEMANAGTNYA PTB

Senin, 4 Agustus 2014 siswa siswi SMPIT Al Huda mengikuti  Grand Opening PTB. Grand Opening PTB merupakan agenda pertama kegiatan PTB SMP IT Al Huda. PTB yang kepanjangannya adalah  Pertumbuhan Tunas Bangsa merupakan salah satu program unggulan SMP IT Al […]

SALAM PRAMUKA

Coklat bersemangat. Begitulah gambaran lapangan Indonesia SMPIT Al Huda siang itu, Jum’at 15 Agustus 2014. “ 2 kali tepuk pramuka” suara tegas kak Eko, salah satu kakak pembina Pramuka di SMPIT Al Huda mengawali persiapan upacara hari Pramuka ke-53 dan […]

BERITA DUKA

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un Keluarga besar PP IT dan SMP IT Al Huda Wonogiri turut berbela sungkawa atas meninggalnya: Bapak Tri Susanto ayah dari Daud Yusuf ( siswa SMP IT Al Huda Wonogiri ) alamat: Segawe, Rt 1/I Giriyoso, […]

boarding-school1-300x200

Informasi PSB Gelombang 3 SMP IT Al-Huda Boarding School Th 2014/2015

Dalam rangka menjaring siswa yang berkualitas SMP IT Al-Huda Boarding School Wonogiri membuka pendaftaran peserta didik baru pada gelombang 3. Target dari kegiatan ini adalah untuk menjaring siswa-siswa dari seluruh pelosok tanah air yang berkualitas. Test seleksi ditekankan pada sisi […]

PENGUMUMAN UJIAN SELEKSI PPDB SMPIT AL-HUDA WONOGIRI 2014/2015 Gel.2

Pengumuman hasil seleksi siswa baru SMP IT Al-Huda Wonogiri 2014/2015 bisa didownload di alamat berikut ini: SK KEPUTUSAN DITERIMA 2014 – GELOMBANG II  

yusron

Yusron Maju ke Olimpiade Matematika Pasiat Tingkat Provinsi

Abdulloh Yusron Fathony siswa SMPIT Al Huda kelas VIII ini memang jago matematika. Setelah baru saja mewakili sekolah di Olimpiade Sain Tingkat Kabupaten Sabtu, 15 Maret 2014, ia maju ke Olimpiade Matematika Pasiat Tingkat Provinsi di SBBS Sragen. Yusron putra […]

halaqoh

Halaqoh Tarbawiyah Tunas Bangsa SMP IT Al-Huda

Sekolah berkarakter. Demikian arah pendidikan yang senantiasa disampaikan oleh kementerian pendidikan 2-3 tahun terakhir. Sampai pemberlakuan kurikulum 2013 tidak lepas dari perhatian pemerintah dalam pendidikan karakter. Hal ini dilatarbelakangi salah satunya oleh banyaknya permasalahan-permasalahan pelajar yang mulai dari tawuran pelajar, […]

karakter2

Agenda UTS, Ujian Praktek, Ujicoba Ujian Sekolah, TO JSIT dan Ujian Sekolah

Setelah kegiatan belajar mengajar (KBM) berjalan beberapa bulan di semester ke-2. Segera akan dilaksanakan kegiatan Ulangan Tengah Semester genap tahun pelajaran 2013/2014. Kegiatan UTS untuk kelas 7 dan 8 ini juga dibersamakan dengan latihan ujicoba Ujian Sekolah bagi kelas 9. […]

 

Mengenal Makna Kehilangan (Sebelum Terlambat)

Sebuah kisah masa lalu, hadir di benakku,

saat ku lihat surau itu, menyibak lembaran masa…. _edcoustic

 

Bada subuh aku sudah menata rumah, membantu ibu menyiapkan sarapan, dan kemudian bersiap. Aku mematut diri di depan kaca besar, di samping ruang makan. Ku kenakan batik hijau dan jilbab paris berwarna sama. Kala itu, tepatnya di bulan Februari tanggal 4, hari Senin pekan pertama.

Derap kakiku melangkah semangat. Setelah berpamit pada ibu dan bapak, aku mulai menyusuri lorong menuju halte bus. Sebagian lampu- lampu jalan masih berpijar gemerlap, menandakan bahwa hari masih pagi.

Menit berloncat- loncatan. Gedung hijau sederhana namun terlihat indah yang menjadi tujuanku sudah mulai tampak di depan sana. Aku tersenyum kecil sambil mempercepat langkah seperti orang yang terburu- buru. Beberapa saat kemudian aku memasuki halaman gedung hijau yang aku tuju tersebut.

“Assalamu’alaykum…” seorang bapak menyapaku dari seberang.

“Wa’alaykumussalam…” jawabku sambil menoleh, menatap wajahnya yang cerah bersinar.

Bapak yang aku tatap justru malah memalingkan wajah, tidak menoleh ke arahku, tapi menatap ke depan, entah melihat siapa, gumamku. Aku mengamatinya dengan mencuri- curi pandang saat beliau sibuk mengemas sapu dan tempat sampah kecil yang ia bawa. Beliau adalah tukang kebun di sekolah ini. Perawakannya kecil, namun semangatnya berkebalikan. Beliau terlihat berbeda. Belum pernah aku menemui tukang kebun sesholih beliau. Ahh, baru bertemu aku sudah menyimpulkan bahwa beliau sholih. Mungkin karena celana cingkrang, jenggot dan keningnya yang terlihat menghitam.

Sang bapak berkening hitam itu kemudian mengantarkan aku ke sebuah ruang setelah aku mengungkapkan maksud kedatanganku. Di ruangan yang tidak begitu besar, beliau meninggalkanku, tanpa berteman siapa- siapa.

Sepuluh menit berlalu. Datanglah seorang bapak yang kali ini berperawakan tinggi besar. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum menyapa beliau. Namun bapak yang kusapa hanya bersikap dingin, sama sekali tidak menoleh, apalagi tersenyum. Beliau masuk ke ruanganya, sedangan aku masih di ruang tamu dengan memendam banyak tanda tanya.

“Mbak Dhevi yaa?” tanyanya kemudian sambil keluar dari ruanganya dan kemudian duduk berseberangan denganku. Mungkin tadi beliau hanya meletakkan tas jinjingnya saja di meja, batinku.

“Betul pak…” jawabku, tanpa berani menatap wajahnya.

“Benar sudah yakin akan bekerja disini??”

Belum sempat aku menjawab, beliau sudah berkata lagi: “Di sini gajinya kecil, kerjanya berat, 24 jam nonstop. Membimbing, mendampingi, mengurus anak. Mbak Dhevi siap?”

“Insya Allah siap pak…” jawabku meyakinkan.

Sesaat setelah itu aku dipaksa untuk mereview kembali pelajaran dimasa aku kuliah. Ditanya masalah statistik, psikologi belajar, diagnosis kesulitan belajar, teknik sampling, dan hasil penelitian skripsiku. Alhamdulillah, aku bisa menjawab semua pertanyaan dengan baik dan beliau yang tak lain adalah Kepala Sekolah itu terlihat puas.

“Oke, ahlan wa sahlan, selamat datang, selamat bergabung menjadi keluarga besar SMP IT Al Huda” kata beliau, sambil memperlihatkan senyumnya yang renyah.

“Alhamdulillah, terimakasih pak…” aku tak kalah bahagia.

Kemudian beliau memanggil salah seorang staf di bagian tata usaha sekolah, dan mengenalkan aku dengannya. Namanya Nur. Wajahnya sangat ayu. Kulitnya putih menawan, dagunya indah, cara bicaranyapun lemah lembut, ditambah lagi dengan jilbab besar yang membalut tubuhnya membuat dia makin terlihat mempesona.

Nur menjadi teman seperjuanganku. Kami satu asrama dan Nur lah yang setia menyemangatiku, mengenalkanku kehidupan di pondok, menceritakan suka duka hidup di pondok.

“Insya Allah aku betah Nur, apalagi kamu baik banget, anak-anaknya juga ramah, kelihatannya nggak ada yang nakal…” ucapku malam itu menutup hari sebelum kami beristirahat malam.

***

 

Malam terasa sepi. Tepat dua minggu aku berada di asrama ini. Ada gejolak hati tak henti. Sangat berbeda dengan keyakinanku kala itu. Aku ingin pulang, tapi tak mampu. Hanya bisa menuangkan kegelisahanku dalam goresan pena di halaman buku diary. Aku diam sejenak, kembali memandang ke arah jendela yang masih terbuka sejak sore tadi. Butiran- butiran hiasan jendela yang bergelayut beradu dengan besi vertikal membuat bunyi khas nan syahdu, namun itu pun tak mampu mengusir kesepianku.

“Buu… Aku nggak betah kerja di sini, aku capek, aku ingin pulang…”

Jemari tanganku menulis SMS itu, entah atas perintah otakku atau bukan. Aku benar- benar merasa sakit di sini, ingin mengambil tindakan tapi tak mampu. Aku tidak betah, aku sedih, bekerja di sini begitu berat, aku merasa tidak mampu menunaikan amanah dengan baik. Apalagi aku harus tinggal di asrama, aku tak suka. Dan SMS tadi terkirim pada ibu tepat di saat buliran bening mulai menetes di pipiku.

Selang beberapa menit datang SMS balasan dari ibu.

“Dilakoni dulu nduk, yang memutuskan mengajar di pesantren kan kamu sendiri… Insya Allah kamu akan menjadi orang hebat dan bermanfaat… Ibu selalu mendoakanmu nduk… Oya, jangan pernah meninggalkan sholat dhuha”

“Ya Rabbi…” rintihku.

***

Ku silang tanggal 3 di bulan Maret kalender atas lemari. Pertanda bahwa sudah satu bulan aku berada di penjara suci ini. Hampir saja aku terjerembab pada jurang keputus- asaan, namun orang- orang hebat di sekitarku selalu memotivasi untuk bangkit. Rasa ingin pergi dari penjara suci ini kadang tetap hadir, tapi di saat itu pula ustad dan ustadzah senantiasa mendampingiku. Di sini aku merasa disayangi oleh teman-teman sesama pengajar. Menjadikan kegelisahanku sedikit berkurang.

Di hari yang sama, aku mendapat telepon dari ibu.

“Assalamu’alaykum buu…” sapaku

“Wa’alaykumussalam nduk… Kamu sehat to?”

“Iya bu alhamdulillah… Ibu?”

“Alhamdulillah ibu sehat juga. Ini lho nduk, kamu dapat surat dari Bank XYZ. Kamu lolos tes, dan pekan depan kamu ada pembekalan di Jogja.”

“Alhamdulillah buu…” aku sangat bahagia.

“Tapi apa kamu akan meninggalkan tempat kerjamu yang sekarang nduk?”

“Entah bu… Kalau menurut ibu bagaimana baiknya?”

“Ibu terserah kamu saja nduk, kamu lebih nyaman dimana, yang penting kamu tidak bekerja dengan rasa terpaksa. Tapi kalau kamu masih bingung, coba sholat istikharah dulu, minta petunjuk sama Gusti Allah…”

“Nggeh bu…”

Selepas ibu menutup telepon aku terdiam, bimbang menentukan pilihan.

***

“Ustadzah, sedang memikirkan apa?” suara Ustad Hendri memecahkan lamunanku.

Aku yang tertangkap basah sedang melamun merasa kikuk.

“Eh ustad, sudah lama di situ? Ada perlu dengan saya?” aku bertanya balik.

“Iya ada perlu, keperluan saya adalah ingin menanyakan apakah ustadzah baik- baik saja? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu? Mungkin saya bisa membantu?”

“Ah ustad, tidak kok, saya hanya ingin pulang saja, kangen sama ibu…” aku terpaksa berbohong.

“Baik, mungkin ustadzah tidak ingin cerita pada saya, tapi ketika ada apa- apa saya harap ustadzah mau cerita pada ustadzah yang lain, jangan suka melamun, pamali…” ucapnya sambil melangkah, menjauh. Beliau tersenyum, mungkin mengetahui kebohonganku.

“Ustad…” panggilku kemudian. Aku membuntuti dari belakang. Ku ceritakan tentang surat panggilan dari Bank XYZ kemarin, dan aku ungkapkan kebimbanganku dalam mengambil keputusan.

“Sudah sholat istikharah?” tanyanya kemudian setelah aku selesai bercerita.

“Sudah ustad”

“Hasilnya?”

“Saya belum mendapat jawaban dari sholat istikharah saya tad…” jawabku apa adanya.

“Ustadzah, bekerja di Bank mungkin akan bisa menjadikan ustadzah senang, bekerja nyaman di ruangan ber-AC, setiap hari pekerjaanya hanya memegang uang saja, gajinya pun tinggi, bisa sampai tiga atau empat kali lipat dari gaji di sini. Tapi apakah ustadzah tahu darimana sumber uang yang sehari- harinya ustadzah hitung, bahkan yang akan ustadzah terima sebagai gaji ustadzah? Tidak lain adalah hasil riba’. Beda halnya ketika ustadzah bekerja di sini, ustadzah tidak saja bekerja untuk menabung bekal dunia, tetapi ustadzah juga mencicil tabungan untuk akhirat. Jadi kalau boleh saya sarankan, ustadzah tetaplah di sini, membimbing anak- anak kita…”

Subhanallah, sebait nasihat dari ustad berwajah teduh itu merasuk dalam pikiranku. Uban di rambutnya memang menandakan usia beliau yang sudah tak muda lagi, tapi setiap orang yang bertemu dengannya pasti akan terhipnotis dengan kesemangatan dan kewibawaannya. Nasihat yang singkat, namun sarat makna. Membuatku mantap untuk mengambil keputusan: aku tidak akan berangkat ke Jogja!

***

 

Lika- liku kehidupan, suka duka perasaan telah mengantarkan aku pada bulan kelima sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di tanah surga ini. Aku merasa diriku mulai didewasakan oleh keadaan. Aku bimbing putra- putriku dengan penuh rasa sayang. Dan kini ketika libur telah tiba, aku sangat merindukan mereka. Rindu bercanda dengan mereka. Rindu sholat berjamaah bersama mereka. Rindu berebut antrian kamar mandi dengan santri akhwat. Rindu makan bersama. Rindu semua yang ada di tanah surga.

***

Namun ternyata kebahagiaan itu hanya menyapaku sebentar saja dan kemudian berganti lagi dengan kesedihan. Aku paham, karena roda itu selalu berputar. Di awal masuk ajaran baru, ketika aku merindukan kebahagiaan yang sudah sempat membuatku nyaman, aku malah dibenturkan dengan amanah yang kurasa begitu berat. Sebagai guru baru, aku harus memantau seluruh siswa karena aku guru bimbingan konseling. Aku juga mendapat amanah sebagai wali kelas sekaligus wali asrama kelas 7. Aku merasa kesulitan ketika harus menata dari awal. Belum lagi kekhawatiran orang tua dan komplain- komplain yang aku terima hampir setiap hari dari SMS di handphoneku.

Lagi- lagi aku merasa bosan, tak betah, dan merasa lelah. Tak jarang aku mengeluh pada kakang-ku, tak jarang aku bermanja, menangis, merajuk, memohon untuk dicarikan pekerjaan di tempat lain. Intinya, aku ingin pergi dari penjara ini. Dan di akhir malam, aku sempatkan memandang langit dari jendela asrama. Bintang dan bulan seperti enggan menampakkan keanggunannya. Mungkin mereka letih karena setiap malam harus terjaga, menemani mata- mata yang terbuai dalam alunan mimpi. Dalam keputus- asaanku, aku menuliskan bait kecil dalam diary cantik bersampul biru.

“…Alangkah bahagianya jika kalian adalah sebuah deretan angka. Aku tak perlu susah payah menata, karena kalian sudah memiliki urutan yang indah sesuai tempat kalian masing- masing. Jujur aku merasa kesulitan menata kalian. Sakit hati ini ketika hal yang ku sampaikan kalian acuhkan. Bahkan kalian sering membantah. Kalian anggap apa aku? Apakah kalian lupa, ataukah kalian belum tahu adab terhadap gurumu?…”

***

Esok hari tiba- tiba saja aku teringat sebuah SMS yang aku terima beberapa hari yang lalu dari salah seorang sahabat lama di luar pulau.

“Pagi hari adalah sebuah berkah nan indah, tak peduli mendung atau cerah. Karena pagi merupakan awal untuk memulai sesuatu, yang di sebut: kehidupan. Dan mentari akan beranjak naik untuk mencerahkan hati. Bersiaplah, karena kesuksesan itu diri kita sendiri yang menciptakan, dan kesuksesan tidak akan datang cuma- cuma tanpa sebuah usaha.”

Ya, aku bertekad ingin mengubur segala kegundahan di hati. Karena aku sadar, mendung itu akan berganti hujan, dan hujan itu akan menghadirkan pelangi, menyibak hati- hati yang merindu akan ketenangan jiwa.

Ketika aku mencoba menilik satu demi satu kejadian yang aku alami di sini, aku semakin mengerti. Dulu aku ingin pergi, kemudian betah. Dulu aku bosan, kemudian nyaman. Dulu aku bahagia, kemudian sedih. Dulu aku senang, kemudian susah. Kehidupan ini akan berputar seperti roda. Sama saat pertama kali aku memutuskan mengabdi untuk agama ini, di pondok ini, aku sangat meyakinkan orang- orang di sekitarku. Namun ternyata aku lemah, setiap ada masalah aku selalu ingin mengakhiri dengan jalan curang, lari dari masalah. Tanpa sedikit sadar bahwa mereka –mujahid mujahidah kecil itu- berjuang untuk tetap bertahan di tempat suci ini, menimba ilmu, mencari bekal untuk menegakkan Islam di bumi tercinta.

Aku mentertawakan diriku sendiri, apakah aku benar- benar akan menjadi pecundang yang enggan bertahan dalam tekanan? Ataukah aku akan setegar karang yang kelak bisa merubah ketertekanan menjadi perasaan damai dan tenang? Karna sesungguhnya, di sini lah tanah surgaku. Aku tidak akan menemukan surga lain di dunia ini, selain di pondok dimana sekarang aku memijakkan kaki.

***

 

Tak terasa bulan demi bulan telah aku lewati. Menginjak bulan kesepuluh aku berada di tanah surga. Kehidupan yang selalu bernafaskan tasbih membawa ketenangan dan berakhir dengan keindahan. Begitu juga sebuah batu atau pasir- pasir hitam yang akhirnya berubah menjadi mutiara saat mereka harus rela menunggu begitu lama di dalam cangkang kerang, sebuah keajaiban.

Hari- hari yang telah terlewat tanpa terasa telah membawa benih kebahagiaan tersendiri bagiku, atas keputusan terbaik yang aku pilih: bertahan dan istiqomah di sini! Ada semburat kebanggaan saat aku berhasil mendidik anak- anakku, karna aku menyampaikan ilmu Allah itu dengan penuh kasih.

Aku tersenyum, seakan tak peduli dengan hujan yang mulai turun perlahan. Mendung hitam telah benar- benar berkuasa, menyelimuti seluruh langit, hingga saat pandangan mata mengarah ke atas, hanya warna hitam dipadu dengan kilatan cahaya petir yang terlihat.  Tetes bening yang turun dari langit itu mengenai kornea mataku, hingga aku kembali menunduk, mengedipkan mataku. Lagi- lagi aku tersenyum, membiarkan kakiku berdecak dengan genangan- genangan air hujan yang mengalir, membuat lumpur serta tanah yang kupijak semakin becek. Ya, tanah becek yang kupijak ini adalah tanah surgaku.

“Ustadzah… Lagi ngapain???” anak- anak di asrama lantai atas mengintipku penasaran.

“Menikmati indahnya surga…” teriakku asal sembari melambaikan tangan.

Anak- anak sontak serempak berlarian turun tangga, menghampiriku di tengah lapangan, dan kemudian memelukku. Aku bisikkan pada mereka, pada langit mendung, dan pada buliran air hujan: “aku menyayangi kalian, aku tak akan meninggalkan kalian, aku tak akan meninggalkan tempat ini, karena di sinilah tanah surgaku.” (bertepatan dengan kilat putih dari langit, aku harap malaikat di atas sana sedang memotretku…)

***

Malam ini masih terlihat pekat, menyisakan tapak hujan tadi siang. Sepi kembali menemaniku. Terlihat wajah- wajah ayu sholihah penuh semangat terlelap pada dipan- dipan kayu sempit yang tertata rapi. Aku menghampiri mereka satu persatu, ku bentangkan selimut, dan aku belai kepala mereka. Ada kehangatan yang mengalir hingga merasuk hatiku. Kini aku sadar, bahwa aku mencintai mereka.

Sesaat setelah itu, aku kembali ke dipan, menarik diary merah muda yang selalu aku selipkan di bawah bantal kura- kuraku.

“…Dengan rasa cinta aku menuai bait- bait ini untuk Tuhanku, Allah. Alhamdulillah, dengan kuasa-Mu, sampai saat ini hamba masih bisa menikmati indahnya dunia, masih bisa mengukir perjalanan hingga detik ini. Terima kasih Engkau telah membahagiakan hamba dengan cinta yang hamba rindukan. Engkau telah mengumpulkan hamba bersama orang- orang sholih yang Kau cintai. Engkau telah mengenalkan hamba tentang makna kehilangan, sehingga hamba bertahan dan istiqomah di jalan dakwah ini. Dan yang pasti, hamba tidak akan pernah menyia-nyiakan surga yang telah Engkau janjikan…”

***

Ba’da shubuh, 16/11/13, di Pondok Al Huda Tercinta

INFORMASI KEPULANGAN KELAS 7

Assalamu’alaikum Wr.Wr

Karena kebutuhan untuk cap 3 jari di SD, maka dengan ini kami sampaikan bahwa jadwal kepulangan khusus kelas 7 diajukan pada:

Kepulangan dari SMPIT : Sabtu 23 Agustus 2014, pukul 13.00 WIB

Kembali ke asrama          : Senin 25 Agustus 2014, maksimal pukul 17.00 WIB

Mohon kepada orang tua / wali murid untuk memastikan putra putrinya memanfaatkan hari Senin untuk melakukan cap 3 jari di SDnya masing-masing dan memastikan anak sampai ke asrama pada hari Senin. Kami juga memohon kepada orang tua / wali murid untuk memberikan motivasi kepada putra putrinya supaya senantiasa bersemangat untuk belajar di SMPIT Al Huda.

Terimakasih atas perhatian dan kerjasamanya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

UNTUK SAUDARA KAMI DI PALESTINA

Bumi para  syuhada…

Alhamdulillah siang ini, di meja humas ditemukan sebuah amplop putih yang bertuliskan “Donasi Untuk Palestina”. Semoga dana kemanusiaan yang telah bapak ibu sampaikan lewat SMP IT Al Huda Wonogiri bermanfaat dan menambah semangat saudara-saudara kita disana…

*) Sampai hari ini dana yang terkumpul sejumlah Rp. 6.710.000,00