Berdiferensiasi Kuatkan Pembelajaran PAI

Oleh : Aryan Andika, S.Pd.I 

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran yang sangat penting untuk siswa. Pembelajaran PAI bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, keimanan, penghayatan, dan pengamalan siswa tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Tapi faktanya, PAI menjadi pelajaran yang hanya sebagai formalitas diajarkan oleh guru di dalam kelas, sehingga minat siswa sangat minim. Kurangnya minat siswa dalam pelajaran ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Mulai dari metode pengajaran yang monoton, seperti metode ceramah atau karena guru yang belum bisa menguasai kelas dengan baik, sehingga belum membuat suasana kelas yang asyik dan menyenangkan. Maka solusinya adalah dengan pembelajaran berdiferensiasi.

Saat ini guru ditantang untuk mengajar dengan pola berdiferensiasi. Berdiferensiasi itu menjawab tantangan merdeka belajar. Merdeka belajar memerlukan bukti, fakta, dan keberanian untuk mencoba. Dan salah satu keberanian itu adalah pembelajaran berbasis berdiferensiasi.

Pembelajaran berdiferensiasi adalah usaha untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid. (Tomlinson (2001: 45).

Ciri-ciri pembelajaran ini adalah memiliki pendekatan yang berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya berdasarkan minat, profil belajar, kesiapan belajar, dan memiliki proses yang berbeda, serta menghasilkan produk yang berbeda juga.

Tujuan dari pembelajaran berdiferensisasi adalah agar siswa di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif.

Strategi pembelajaran berdiferensiasi yang dapat diterapkan oleh guru antara lain diferensiasi berdasarkan konten, proses dan produk. Pertama, diferensiasi konten, yaitu materi pembelajaran itu sendiri yang diajarkan kepada siswa dengan mempertimbangkan pemetaan kebutuhan belajar siswa, baik itu dalam aspek kesiapan belajar, aspek minat siswa, dan aspek profil belajar siswa atau kombinasi dari ketiganya.

Kedua, diferensiasi proses, yaitu berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh guru. Dalam proses ini, guru perlu memahami apakah siswa akan belajar secara berkelompok atau mandiri.

Ketiga, diferensiasi produk yaitu berkaitan dengan produk yang akan di hasilkan oleh siswa.

Berikut satu contoh penerapan pembelajaran berdiferensiasi dalam kelas. Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok berdasarkan hasil profil belajar siswa, ada yang cakap pada visual, auditori dan kinestetik. 

Kemudian guru menyampaikan tujuan pembelajarannya, yaitu siswa  mampu  menjelaskan pengertian dan tata cara sujud sahwi, tilawah, dan syukur, mampu mempraktikkannya dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Guru memberikan bimbingan ke setiap kelompok. Kelompok visual, siswa mendalami buku materi, print out, atau teks materi yang guru berikan.

Kelompok auditori, siswa diminta menyimak video/audio pembelajaran yang disediakan. Kelompok kinestetik, siswa diminta untuk mengerjakan soal dengan strategi go to your post.

Produknya siswa diperbolehkan memilih cara mendemonstrasikan pemahaman mereka dalam bentuk poster, video, presentasi powerpointmind map, hasil tes atau bentuk produk lainnya. Selanjutnya guru melakukan evaluasi, refleksi pembelajaran dan penguatan materi.

Manfaat dari pembelajaran berdiferensiasi antara lain pembelajaran yang menyenangkan. Memacu dan memicu siswa bersikap lebih aktif dan menerapkan nilai moderasi syura (musyawarah).

Siswa juga semakin giat dan antusias dalam pembelajaran, karena secara langsung mereka terlibat pada proses pembelajaran yang sedang dipelajari.

Tantangannya, guru harus mampu menyiapkan beragam materi pembelajaran sekaligus instrumen penilaiannya. Guru PAI siap pembelajaran berdiferensiasi. (*)

*) Guru PAI di SMP IT Al-Huda Kabupaten Wonogiri

 Publikasi RADAR SOLO 17 Februari 2023 17:26